Jakarta,
21 Mei 2026 — Kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT) dan Densus 88 Antiteror Polri terus diperkuat melalui pendekatan
perlindungan anak, literasi digital, dan penguatan ketahanan
masyarakat, sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang
adaptif menghadapi perkembangan ruang digital.
Penguatan sinergi
tersebut mengemuka dalam bedah buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror
Modern di Era Digital” yang diselenggarakan pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul
15.00 WIB di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Menteng Dalam,
Jakarta Selatan, dan menghadirkan unsur pemerintah, aparat keamanan,
akademisi, psikolog, serta pakar teknologi.
Kepala BNPT, Komjen
Pol. (Purn.) Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa membangun
ketahanan masyarakat di era digital memerlukan keterlibatan seluruh
elemen bangsa.
“Membangun ketahanan masyarakat merupakan tanggung
jawab bersama. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan seluruh
elemen bangsa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang
aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda,” ujar Komjen Pol.
(Purn.) Eddy Hartono.
Menurut Kepala BNPT, upaya pencegahan yang
berkelanjutan perlu diperkuat melalui pendidikan, penguatan literasi
digital, dan deteksi dini berbasis komunitas, sehingga masyarakat
memiliki kemampuan mengenali perubahan sosial dan meresponsnya secara
tepat.
Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan
amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, yang menempatkan kesiapsiagaan
nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi sebagai bagian dari
upaya bersama lintas sektor.
“Pencegahan yang efektif tumbuh dari
lingkungan terdekat masyarakat. Karena itu, penguatan keluarga,
sekolah, komunitas, dan ruang sosial menjadi fondasi penting dalam
membangun ketahanan bersama,” jelas Kepala BNPT.
Sebagai bagian
dari penguatan kolaborasi, BNPT terus mendorong keterlibatan berbagai
unsur melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), program
berbasis komunitas, serta penguatan sistem edukasi dan literasi di
daerah.
Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri, Irjen Pol. Sentot
Prasetyo, S.I.K., menekankan pentingnya perlindungan anak, pendampingan,
dan penguatan ketahanan psikologis di tengah perkembangan ruang digital
yang terus berubah.
“Anak perlu dipahami sebagai pihak yang
harus dilindungi dan diperkuat ketahanannya. Karena itu, penguatan
literasi digital, lingkungan sosial yang sehat, dan keterlibatan
keluarga menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan,” ujar Irjen
Pol. Sentot Prasetyo.
Menurut Kadensus 88, pendekatan
perlindungan akan semakin efektif melalui collaborative approach, yakni
kolaborasi aktif antara keluarga, sekolah, pemerintah, akademisi,
komunitas, dan masyarakat.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari para akademisi yang hadir dalam diskusi.
Psikolog
Forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai penguatan perlindungan
psikologis dan deteksi dini menjadi penting di tengah perubahan pola
interaksi generasi muda.
“Pendekatan perlindungan dan deteksi
dini terhadap anak menjadi semakin penting agar mereka memiliki
ketahanan menghadapi berbagai tantangan sosial maupun digital,” ujar Dr.
Zora Arfina Sukabdi.
Sementara Prof. Harkristuti Harkrisnowo,
S.H., M.A., Ph.D., mengingatkan bahwa penguatan kebijakan perlu tetap
mengedepankan hak asasi manusia dan pendekatan berbasis bukti ilmiah,
sehingga perlindungan berjalan secara proporsional dan inklusif.
Dari
perspektif psikologi, Dra. Adityana Kasandra Putranto menekankan
pentingnya ketahanan mental dan dukungan lingkungan sebagai faktor
protektif bagi generasi muda.
Sedangkan Dr. Ismail Fahmi
menyoroti perlunya literasi digital dan edukasi publik berbasis data,
agar masyarakat semakin siap memahami dinamika ruang digital secara
lebih bijak.
Diskusi ini mempertegas satu pesan bersama:
perlindungan generasi muda di era digital membutuhkan kolaborasi yang
kuat antara negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Kolaborasi
yang kuat akan melahirkan ketahanan masyarakat yang kuat. Perlindungan
generasi muda dimulai dari lingkungan terdekat mereka,” tutup Komjen
Pol. (Purn.) Eddy Hartono.
Sinergi BNPT dan Densus 88 menegaskan
bahwa membangun masa depan yang aman dimulai dari pendidikan,
perlindungan, literasi digital, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar