Tuban
- Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan panen raya jagung
serentak kuartal II dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri
serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei
2026, disambut antusias oleh para petani dan kelompok tani setempat.
Kehadiran Presiden dinilai membawa harapan baru bagi peningkatan
kesejahteraan petani, termasuk petani hutan di wilayah Tuban.
Ketua
Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur, Tasmuri, mengaku senang atas
kunjungan Presiden Prabowo ke wilayahnya yang menurutnya menjadi momen
bersejarah bagi masyarakat tani setempat. “Kalau Pak Presiden Prabowo ke
sini, saya melihatnya sangat-sangat senang. Karena tidak pernah
dikunjungi Pak Presiden di wilayah kami, baru ini, saya sangat semangat
dan senang,” ujar Tasmuri.
Tasmuri menilai kebijakan pemerintah
saat ini mulai dirasakan petani, terutama terkait kemudahan memperoleh
pupuk dengan harga yang lebih terjangkau. “Kalau sekarang banyak
perubahan. Kalau dulu, masalah pupuk, tetap pupuk yang diandalkan
petani. Yang dulu sangat sulit, ngantri-ngantri. Ada perubahan, (oleh)
Pak Prabowo harganya diturunkan. Yang dulu lebih mahal, sekarang turun
dan pelayanannya sangat sederhana, ya, mudah dicari,” tuturnya.
Poktan
Ngudi Makmur sendiri mengelola lahan seluas 631,7 hektare dengan
sekitar 750 petani penggarap. Meski kondisi pupuk dinilai makin membaik,
Tasmuri berharap pemerintah dapat membantu kebutuhan pengeboran air
untuk irigasi karena wilayah pertanian mereka masih sangat bergantung
pada hujan.
“Karena di sini, wilayah saya ini kan kalau kadang
tidak ada hujan, sudah gagal yang panen kedua. Itu petani rugi sangat
besar, karena jagungnya tidak bisa jadi,” ungkapnya.
Selain
persoalan irigasi, Tasmuri juga mengapresiasi membaiknya harga jual
jagung yang kini mencapai lebih dari Rp6.000 per kilogram dan dinilai
mampu membantu petani menutup biaya produksi.
“Kalau jual hasil
tani, alhamdulillah sudah baik. Dulu harga jagung hanya Rp3.800-Rp4.000.
Tapi sekarang sampai 6 (ribu) lebih. Sekarang sampai 6 (ribu) lebih,
Rp6.200 per kilo. Berarti petani sangat gembira, karena biayanya
banyak,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH)
Wono Lestari, Sudarlim, berharap kehadiran Presiden dapat membawa
perhatian lebih bagi petani hutan. “Kami petani hutan itu 90 persen di
Tuban itu menanam jagung, harapannya ke depannya bisa mendapat perhatian
yang lebih atau paling tidak sama dengan petani yang ada di luar
kawasan hutan,” ujar Sudarlim.
Sudarlim juga menilai kondisi
pupuk mulai membaik. Di sisi lain, ia berharap pemerintah memberikan
dukungan fasilitas pascapanen seperti alat pengering agar petani dapat
memenuhi standar Bulog dan memperoleh harga jual maksimal.
“Yang
kita harapkan ada fasilitas untuk proses pengolahannya pascapanen,
sehingga kita bisa mengakses Bulog dan mendapatkan harga maksimal,”
tuturnya.
Sudarlim juga optimistis program swasembada pangan yang
dicanangkan Presiden Prabowo dapat berjalan sukses dan memberikan
dampak nyata bagi kesejahteraan petani.
“Dengan kehadiran Pak
Presiden, saya optimis kesejahteraan petani, bukan hanya petani hutan,
tapi program swasembada pangan yang dicanangkan beliau akan sukses,”
tuturnya.
Selain fasilitas pascapanen, Sudarlim berharap
pemerintah dapat membantu pembangunan irigasi atau sumur dalam agar
petani dapat meningkatkan frekuensi tanam dan mengurangi risiko gagal
panen. Menutup keterangannya, Sudarlim menyampaikan doa bagi
kepemimpinan Presiden Prabowo.
“Saya doakan sukses selalu Pak
Prabowo dalam memimpin negara kita tercinta Indonesia, sebagai anugerah
terbesar dari Yang Maha Esa, dengan adanya zamrud katulistiwa yang ada
di negara kita. Itu anugerah terbesar Pak,” tandasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar