JAKARTA
— Rilis survei nasional Rumah Politik Indonesia menunjukkan optimisme
publik terhadap transformasi budaya di tubuh Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Polri) terus menguat. Hasil survei tersebut memperlihatkan
masih besarnya harapan masyarakat terhadap upaya pembenahan dan
perbaikan yang dilakukan institusi Polri.
Survei ini berbeda
dengan sejumlah survei sebelumnya, termasuk survei yang dilakukan oleh
KPS, baik dari sisi metodologi maupun cakupan wilayah. Rumah Politik
Indonesia melakukan survei di 30 provinsi dari total 38 provinsi di
Indonesia pada periode 2 hingga 9 Januari 2026. Sejumlah daerah tidak
disertakan karena terdampak bencana alam sehingga tidak memungkinkan
dilakukannya pengumpulan data.
Pengumpulan data dilakukan melalui
metode wawancara langsung serta pengisian kuesioner secara daring
menggunakan Google Form. Total responden dalam survei ini berjumlah
1.200 orang, berusia 17 tahun ke atas, dengan margin of error sebesar
2,8 persen.
Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando
Emas, mengatakan hasil survei menunjukkan tingkat kepercayaan publik
terhadap Polri diprediksi mengalami peningkatan pada tahun 2026.
“Hasil
survei kami menunjukkan mayoritas masyarakat masih memiliki optimisme
terhadap transformasi yang dilakukan Polri. Ini menjadi sinyal positif
bahwa upaya pembenahan institusi masih mendapat kepercayaan publik,”
ujar Fernando Emas, Senin (12/1).
Berdasarkan hasil survei,
sebanyak 29 persen responden menyatakan cukup optimis, 24 persen
optimis, dan 21 persen sangat optimis terhadap transformasi Polri ke
depan.
Sementara itu, responden yang menyatakan tidak optimis
tercatat sebesar 6,9 persen, sedangkan 10,4 persen responden memilih
tidak memberikan jawaban.
Fernando menilai angka tersebut menunjukkan
bahwa ruang perbaikan masih terbuka lebar, sekaligus menegaskan adanya
harapan besar dari masyarakat.
“Artinya masih ada harapan.
Masyarakat masih optimis terhadap transformasi yang dilakukan Polri.
Karena itu, mari kita sama-sama mendukung langkah-langkah pembenahan,
baik yang dilakukan oleh institusi Polri maupun pihak-pihak terkait,”
katanya.
Ia menambahkan, dukungan publik perlu diiringi dengan
konsistensi reformasi internal dan peningkatan kinerja pelayanan
kepolisian agar kepercayaan masyarakat benar-benar terjaga.
“Kami
berharap pada 2026 ini terjadi perbaikan nyata sesuai dengan hasil
survei yang baru saja dirilis. Optimisme publik ini harus dijaga dengan
reformasi yang konsisten dan peningkatan kinerja Polri secara
berkelanjutan, khususnya dalam pelayanan kepada masyarakat,” pungkas
Fernando.
Rumah Politik Indonesia menilai, dengan dukungan publik
yang masih cukup kuat tercatat sebesar 12,9 persen berada pada spektrum
harapan lanjutan Polri memiliki modal sosial penting untuk terus
melanjutkan transformasi institusional demi mewujudkan pelayanan yang
lebih profesional, transparan, dan humanis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar